Ditujukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Etika Keperawatan
Dosen Pengajar :
Ns. Wiwiek Widiati, M.Kes.
Disusun oleh kelopok 1:
Siti Farikhatul Laila (7117002)
Virda Wulandari (7117003)
Aimmah Nurul Farida (7117004)
Dyah hanum pertiwi (7117005)
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM
JOMBANG
2017/2018
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Segala puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan hidayah-Nya akhirnya saya dapat menyelesaikan Makalah tentang “Dinamika Masyaraat Dan Kebudayaan ”. Adapun makalah ini dibuat untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah dari Ibu Ns. Wiwiek Widiati, M.Kes. selaku dosen Mata Kuliah Antropologi. Ini merupakan tugas yang tidak ringan, penulis sadar banyak hambatan yang menghadang dalam proses penyusunan Makalah ini dikarenakan keterbatasan kemampuan penulis sendiri.
Ucapan terimakasih penulis persembahkan kepada pihak-pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu terselesaikannya makalah ini, antara lain berterimakasih kepada :
Ibu Pujiani S .Kep. Ners., M.Kes selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UNIPDU Jombang
Ibu Ns. Wiwiek Widiati, M.Kes. selaku dosen pengajar mata kuliah Antropologi UNIPDU Jombang
Karena proses penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, penulis menerima masukan dan kritik untuk perbaikan dalam pembuatan makalah yang akan mendatang. Semoga bermanfaat.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Jombang, 30 April 2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN i
1. 1 Latar Belakang i
1. 2 Rumusan Masalah i
1. 3 Tujuan Penulisan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
2. 1 Pengertian 3
2. 2 Unsur-Unsur Kebudayaan 5
2. 3 Fungsi Kebudayaan Bagi Masyarakat 5
2. 4 Sifat dan Hakikat Kebudayaan 7
2. 5 Gerak Kebudayaan 7
2. 6 Konsepsi-Konsepsi Mengenai Khusus Mengenai Pergeseran Masyarakat dan Kebudayaan 8
2. 7 Proses Belajar Kebudayaan Sendiri 9
2. 8 Proses Difusi 12
2. 9 Akulturasi dan Pembaruan atau Asimilasi 13
2. 10 Pembaharuan atau Inovasi 14
BAB III PENTUP 15
DAFTAR PUSTAKA 16
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
Effendi, R (2006) mengemukakan bahwa masyarakat merupakan kelompok atau kolektivitas manusia yang melakukan antar hubungan, sedikit banyaknya bersifat kekalm berlandaskan perhatian dan tujuan bersama, serta telah melakukan jalinan secara berkesinambungan dalam waktu yang relatif lama.
E.B Taylor (2007) mengungkapkan bahwa kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Koentjaraningrat (2003) mengungkapkan bahwa untuk menganalisa proses-proses pergeseran masyarakat dan kebudayaan, termasuk lapangann penelitian antropologi dan sosiologi yang disebut dinamika sosial diantara konsep-konsep yang terpenting ada yang mengenai proses-proses belajar kebudayaan sendiri, yakni internalisasi, sosialisasi dan enkulturasi. selain itu ada proses perkembangan kebudayaan umat manusia (atau evolusi kebudayaan) Dari bentuk-bentuk kebudayaan yang sederhana hingga yang makin lama makin kompleks yang dilanjutkan dengan proses penyebaran kebudayaan—kebudayaan yang terjadi bersama dengan perpindahan bangsa-bangsa dari muka bumi. Proses lainnya adalah proses perkenalan budaya-budaya asing yang disebut “proses akulturasi” dan proses pembaruan yang disebut “asimilasi” dan yang berkaitan erat dengan penemuan baru yang disebut “inovasi”.
Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang tersebut, agar dalam penulisan ini penulis memperoleh hasil yang diinginkan, maka penulis mengemukakan beberapa rumusan masalah. Rumusan masalah itu adalah:
Apakah Pengertian dari Kebudayaan dan Dinamika Masyarakat?
Apakah Unsur-unsur dari Kebudayaan Tersebut? Apakah Fungsi Kebudayaan Bagi Masyarakat?
Apakah Sifat dan Hakikiat Kebudayaan?
Apakah Gerak dan Faktor apa yang Mempengaruhi Perkembangan Nilai Kebudayaan?
Apa konsep-konsep mengenai pergeseran masyarakat dan kebudayaan?
Tujuan Penulisan
Tujuan yang hendak dicapai dalam kajian ini adalah
Mengetahiu Pengertian Dari Kebudayaan dan Dinamika Masyarakat
Untuk mengetahui konsepsi-konsepsi mengenai pergeseran masyarakat dan kebudayaan, proses belajar kebudayaan sendiri, proses evolusi sosial, proses difusi, akulturasi dan pembaharuan atau asimilasi dan perubahan atau inovasi.
Mampu Menerapkannya dalam Lingkungan Masyarakat
BAB II PEMBAHASAN
Pengertian
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Budaya dalam pengertian yang luas adalah pancaran daripada budi dan daya. Seluruh apa yang difikir, dirasa dan direnung diamalkan dalam bentuk daya menghasilkan kehidupan. Budaya adalah cara hidup sesuatu bangsa atau umat.
Budaya tidak lagi dilihat sebagai pancaran ilmu dan pemikiran yang tinggi dan murni dari sesuatu bangsa untuk mengatur kehidupan berasaskan peradaban. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Budaya Indonesia merupakan kebudayaan yang dapat di artikan sebagai kesatuan dari kebudayaan seluruh wilayah yang ada di Indonesia Untuk Menumbuhkan rasa cinta Indonesia dalam rangka Mengembalikan Jati diri Bangsa Indonesia perlu di galakkan kembali karena sekarang ini Indonesia sedang mengalami nilai nilai pergeseran dari kebudayaan lokal yaitu kebudayaan asli Indonesia kepada mulainya kecintaan terhadap budaya asing. Dengan majunya teknologi di mana informasi apa saja bisa masuk dalam kehidupan masyarakat kita turut pula mempengaruhi tergesernya nilai nilai budaya Indonesia ini. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebudayaan maupun teknologi baik dari dalam aupun dari luar. Sekilas kebudayaan dan teknologi dinilai sangatlah bertolak belakang, kebudayaan lebih menitik beratkan kepada sejarah sedangkan teknologi berhubungan dengan trend masa kini. Tidak sedikit orang yang menilai kedua bahasan tersebut demikian. Namun, bila ditelaah lebih dalam lagi pada dasarnya dan sebenarnya kebudayaan sangat berhubungan dengan teknologi. Kebudayaan menghasilkan teknologi, sedangkan teknologi menciptakan kebudayaan dalam masyarakat serta teknologi pertanda kemajuan kebudayaan, dengan kata lain antara kebudayaan dan teknologi sangatlah mempengaruhi.
Dinamika adalah sesuatu yang mengandung arti tenaga kekuatan, selalu begerak, berkembang, dan dapat menyesuaikan diri secara memadai terhadap keadaan.
Dinamika masyarakat adalah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompok dan penggolongan dari pengawasan tingkah laku serta kebebasan-kebebasan manusia
Dinamika Kelompok merupakan suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami.
fungsi dinamika kelompok:
1) Membentuk kerjasama saling menguntungkan dalam mengatasi persoalan hidup.
2) Memudahkan segala pekerjaan.
3) Mengatasi pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dan mengurangi beban pekerjaan yang terlalu besar sehingga seleseai lebih cepat, efektif dan efesian.
4) Menciptakan iklim demokratis dalam kehidupan masyarakat
Unsur-Unsur Kebudayaan
Unsur-unsur pokok atau besar kebudayaan, yang lazim disebut Cultural Universals. Dari istilahnya saja ini dapat menunjukkan bahwa unsur-unsur tersebut bersifat universal, yaitu dapat dijumpai pada setiap kebudayaan di manapun di dunia ini.
Tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural universals disini adalah:
Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, transport dan sebagainya).
Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, system produksi, sistem distribusi dan sebagainya).
Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan).
Bahasa (lisan maupun tertulis).
Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak dan sebagainya).
Sistem pengetahuan.
Religi (sistem kepercayaan).
Fungsi Kebudayaan Bagi Masyarakat
Kebudayaan" mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. masyarakat memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dalam menjalani kehidupannya. Kebutuhan-kebutuhan masyarakat tersebut sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber pada masyarakat itu sendiri. Karena kemampuan manusia terbatas sehingga kemampuan kebudayaan yang merupakan hasil ciptaannya juga terbatas di dalam memenuhi segala kebutuhan.
Hasil karya masyarakat melahirkan teknologi atau kebudayaan kebendaan yang mempunyai kegunaan utama di dalam melindungi masyarakat terhadap lingkungan dalamnya. Teknologi pada hakikatnya meliputi paling sedikit tujuh unsur, yaitu:
1. Alat-alat produktif.
2. Senjata.
3. Wadah.
4. Makanan dan minuman.
5. Pakaian dan perhiasan.
6. Tempat berlindung dan perumahan.
7. Alat-alat transport
masyarakat yang sudah kompleks yang taraf kebudayaannya lebih tinggi, kondisinya sudah berlainan dengan taraf permulaan. Hasil karya manusia yaitu teknologi, memberikan kemungkinan-kemungkinan yang sangat luas untuk memanfaatkan hasil-hasil alam dan apabila memungkinkan akan menguasai alam. Perkembangan teknologi di negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Jerman dan sebagainya, merupakan contoh di mana masyarakatnya tidak lagi pasif menghadapi tantangan alam sekitarnya.
Kebudayaan mengatur supaya manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat menentukan sikapnya kalau mereka berhubungan dengan orang lain. Setiap orang bagaimanapun hidupnya, akan selalu menciptakan kebiasaan bagi dirinya sendiri. Kebiasaan (habit) merupakan suatu perilaku pribadi yang berarti kebiasaan orang seorang itu berbeda dari kebiasaan orang lain, walaupun mereka hidup dalam satu rumah. Kebiasaan menunjuk pada suatu gejala bahwa seseorang di dalam tindakan-tindakannya selalu ingin melakukan hal-hal yang teratur baginya. Membantu manusia dalam menyelenggarakan kehidupannyaatau sebagai pedoman hidup. Memberi kepuasan dalam bidang kerohanian maupun material, walaupun tidak semua keinginan manusia dapat terpenuhi oleh kebudayaan
Sifat dan Hakikat Kebudayaan
2.4.1. Sifat Kebudayaan
Terjadinya karena perubahan perilaku kebiasaan manusia
Cenderung berkembang disetiap zamamn
Tradisi tertentiu masih perlu melakukan ritual tertentu karena menganggap bahwa ada kekeuatan lebih besar selain dari manusia,yakni tuhan.
Kebudayaan seperti music cenderung abadi, hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya langgam-langgam yang dirilis ulang.
Hukum dan budaya menghadapi persoalan yang serius, hal ini sering terjadi jika penentuan tanah berdasarkan hokum adat dan udang-udang agrarian Negara.
2.4.2. Hakikat kebudayaan
Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari perilaku manusia.
Kebudayaan telah ada lebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu, dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya.
Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang dizinkan.
Gerak Kebudayaan
Tak ada kebudayaan yang statis, semua kebudayaan punya dinamika atau gerak. Gerak kebudayaan atau dinamika kebudayaan adalah gerak manusia yang hidup didalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan. Gerak manusia terjadi oleh sebab adanya hubungan dengan manusia lain. Artinya, karena terjadinya hubungan antar kelompok manusia dalam masyarakat.
Dinamika masyarakat dan kebudayaan itu tidak akan terlepas dengan sebuah perubahan, karena apabila manusia saling berhubungan dan terjadi gerak maka tentunya akan terjadi perubahan, baik perubahan masyarakat maupun perubahan kebudayaan.
Kingsley Davis dalm Soekanto berpendapat bahwa perubahan sosial merupakan bagian dari perubhan kebudayaan. Perubahan dalam kebudayaan: ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, dsb, bahkan perubahan dalam bentuk serta aturan organisasi sosial.
Contoh, dikemukakannya perubahan pada logat bahasa Aria setelah berpisah dari induknya, akan tetpi perubahan itu tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarkat.
Perubahan tersebut lebih dikarenakan perubahan kebudayaan ketimbang perubahan sosial. Tidak mudah untuk menentukan letak garis pemisah antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan. Karena tidak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan, dan sebaliknya tidak mungkin ada kebudayaan yang tidak terjelma dalam masyarakat.
Konsepsi-Konsepsi Mengenai Khusus Mengenai Pergeseran Masyarakat dan Kebudayaan
Dalam Bab ini, konsep yang kita perlukan apabila kita ingin menganalisa secara ilmiah gejala-gejala dan kejadian-kejadian sosial budaya disekeliling kita sebagai proses yang sedang berjalan dan bergeser. semua konsep yang kita perlukan apabial kita ingin menganalisa proses pergeseran masyarakat dan kebudayaan , termasuk lapangan penelitian ilmu antropologi dan sosiologi yang disebut dinamika sosial.
Diantara konsep yang terpenting ada yang mengenai proses belajar kebudayaan oleh warga masyarakat yang bersangkutan, yaitu internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi. Ada juga proses perkembangan kebudayaan umat manusia pada umumnya yang sederhana, sehingga bentuk-bentuk yang lama semakin kompleks, yaitu evolusi kebudayaan. Kemudian dap roses penyebaran kebudayaan secara geografi terbawa oleh perpindahan bangsa-bangsa dimuka bumi, yaitu proses difusi. Proses lain adalah proses belajar unsur-unsur kebudayaan asing oleh warga suatu masyarakat, yaitu proses akullturasii dan asimilasi. Akhirnya ada proses pembaruan atau inovasi yang sangat erat kaitannya dengan penemuan baru yang disebut inovasi dan invention.
Proses Belajar Kebudayaan Sendiri
Proses Internalisasi
Koentjaraningrat (2003) mengunkapkan bahwa proses internalisasi adalah proses yang berlangsung sepanjang hidup individu, yaitu mulai saat ia dilahirkan sampai akhir hayatnya, sepanjang hayatnya seorang individu terus belajar untuk mengolah segala perasaan, hasrat, nafsu, dan emosi yang kemudian membentuk kepribadiannya.
Menurut Effendi, R (2006) internalisasi adalah proses pengembangan potensi yang dimiliki manusia yang dipengaruhi, baim lingkingan internal dalam diri manusia itu maupu eksternal, yaitu pengaruh dari luar manusia.
Dapat disiimpulkan, bahwa proses internalisasi merupakan proses pengembangan atau pengolaan potensi yang dimiliki manusia, yang berlangsung sepanjang hayat, yang dipengaruhi oleh lingkungan internal maupun eksternal.
Menurut Fathoni, A (2006), proses internalisasi tergantung dari bakat yang dipunyai dalam gen manusia untuk mengembangkan berbagai macam perasaan, hasrat, nafsu dan emosinya. tetapi semua itu juga tergantung pada pengaruh dari berbagai macam lingkungan sosial dan budayanya. Contoh: Bayi yang lahir terus belajar bagaimana mendapatkan perasaan puas dan tidak puas.
Proses Sosialisasi
Menurut Fathoni, A (2006), proses sosialisasi bersangkutan dengan proses belajar kebudayaan dalam hubungan dengan sistem sosial. Dalam prose situ seseorang individu dari masa anak-anak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu disekelilingnya yang menduduki beraneka macam peranan sosial yang munkin ada dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Koentjaraningrat (2003) individu dalam masyarakat yang berbeda-beda akan mengalami proses sosialisasi yang berbeda-beda karena prose situ banyak ditentukan oleh susuanan kebudayaan serta lingkungan sosial yang bersangkutan.
Menurut Effendi, R (2006) syarat terjadinya proses sosialisasi adalah:
Individu harus diberi keterampilan yang dibutuhkan bagi hidupnya kelak dimasyarakat.
Individu harus mampu berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuannya untuk membaca, menulis dan berbicara.
Pengendalian fungsi-funsi organic harus dipelajari melalui latihan-latihan.
Individu harus dibiasakan dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada pada masyarakat.
Proses Akulturasi
Menurut Kuntjaraningrat (2003), mengemukakan bahwa proses akulturasi merupakan proses belajar dan menyesuaikan alam pikiran serta sikap terhadap adat. system norma, serta semua peraturan yang terdapat dalam kebudayaan seseorang
Sejak kecil proses akulturasi sudah dimulai dalam alam pikiran manusia, mula-mula dari lingkungan keluarga, kemudian teman bermain, lingkungan masyarakat dengan meniru pola perilaku yang berlangsung dalam suatu kebudayaan. Oleh karena itu prosen akulturasi disebut juga dengan pembudayaan.
Akulturasi terjadi apabila suatu kelompok manusia dengan satuan kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur suatu kebudayaan asing yang berbeda sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu dengan lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kebudayaan itu sendiri.
Proses akulturasi yang berjalan dengan baik dapat menghasilkan integasi antara unsur-unsur kebudayaan asing dengan unsur-unsur kebudayaan sendiri. Dengan demikian, unsur-unsur kebudayaan asing tidak lagi dirasakan sebagai hal yang berasal dari luar, tetapi dianggap sebagai unsur-unsur kebudayaan sendiri.
Proses Evolusi Sosial
Proses Microscopic dan Macroscopic dalam Evolusi Sosial
Proses evolusi dari suatu masyarakat dan kebudayaan dapat dianalisa secara mendetail (microscopic), tetapi dapat juga dilihat secara keseluruhan dengan memperhatikan perubahan-perubahan besar yang telah terjadi (macroscopic). Proses-proses sosial budaya yang dianalisa secara detail dapat memberi gambaran mengenai berbagi proses perubahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dari suatu masyarakat. Proses evolusi sosial budaya secara macroscopic yang terjadi dalam suatu jangka waktu yang panjang, dalam antropologi disebut “proses-proses pemberi arah” atau directional processes.
Proses-proses Berulang dalam Evolusi Sosial Budaya
Dalam Antropologi, perhatian terhadap proses-proses berulang dalam evolusi sosial buadaya baru timbul sekitar tahun 1920 bersama dengan perhatian terhadap individu dalam masyarakat sebelumnya, Para ahli antropologi umumnya hanya memperhatikan adat istiadat yang lazim berlaku dalam masyarakat yang mereka teliti, tanpa memperhatikan sikap, perasaan serta tingkah laku para individu yang bertentangan dengan adat istiadat.
Dalam meneliti masalah ketegangan antara adat istiadat yang berlaku dengan kebutuhan yang dirasakan oleh beberapa individu dalam suatu masyarakat, perlu diperhatikan 2 (dua) konsep yang berbeda, yaitu:
Kebudayaan sebagai kompleks dari konsep norma-norma, pandangan-pandangan dan sebagainya yang bersifat abstrak (yaitu sistem budaya).
Kebudayaan sebaga sebagai serangkaian tindakan yang konkrit dimana para individu saling berinteraksi (yaitu sistem sosial).
Kedua sistem tersebut sering saling bertentangan dan dengan mempelajari konflik-konflik yang ada dalam setiap masyarakat itulah dapat diperoleh pengertian mengenai dinamika masyarakat pada umumnya.
3. Proses Mengarah dalam Evoksi Kebudayaan
Apabila evolusi masyarakat dan kebudayaan dipandang darii suatu jarak yang jauh dengan suatu interval yang panjang, (misalnya beberapa ribu tahun), akan menetukan arah dari sejarah perkembbangan dari masyarakat dan kebudayaan yang bersangkutan.
Proses Difusi
Penyebaran Manusia
Ilmu antropologi telah memperkirakan bahwa mahluk manusia dari suatu daerah dimuka bumi, yaitu sabana tropical di Afrika Timur, dan sekarang makhluk itu sudah menduduki hampir seluruh permukaan bumi ini. Ini dapat diterangkan dengan adanya proses migrasi yang disertai dengan prose penyesuaian atau adaftasi fisik dan sosial budaya dari manusia dalam jangka waktu berates ribu tahun lamanya.
Ditinjau dari segi penelitiannya maka kita dapat membayangkan berbagai macam sebab dari migrasi yang lambat dan otomatis, serta peristiwa yang menyebabkan migrasi cepat dan mendadak.
Migrasi lambat dan otommatis adalah sejajar dengan perkembangan dari manusia yang selalu banyak jumlahnya, sejak masa timbulnya dimuka bumi hingga sekarang. Prose evolusi ini menyebabkan manusia senantiasa memerlukan daerah yang makin lama makin luas.
Penyebaran Unsur-Unsur Kebudayaan
Bersama dengan penyebaran dan migrasi kelompok-kelompok masyarakat dimuka bumi ini, turut tersebar pula berbagai unsur kebudayaan. Penyebaran unsur-unsur kebudayaan dapat juga terjadi tanpa ada perpindahan kelompok-kelompok manusia atau bangsa-bangsa tetapi karena unsur-unsur kebudayaan itu memang sengaja dibawa oleh individu-individu tertentu, seperti para pedagang dan pelaut.
Dalam zaman modern seperti saat ini, penyebaran unsur-unsur kebudayaan tidak lagi mengikuti migrasi-migrasi kelompok, melainkan tanpa kontak langsung antar individu yang berbeda, ini disebabkan sekarang sudah banyak media-media yang membantu mempercepat persebaran kebudayaan dari satu tempat ketempat lain, seperti Televisi, radio, surat kabar dan sebagainya.
Akulturasi dan Pembaruan atau Asimilasi
Akulturasi adalah proses sosial yang timbul apabila sekelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing sehingga unsur-unsur asing itu lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu.
Asimilasi timbul bila ada:
Golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda.
Saling bergaul langsung secara intensif dalam waktu yang lama.
Kebudayaan golongan tadi berubah sifat dan wujudnya menjadi kebudayaan campuran. Golonga minoritas mengubah sifat khas unsur kebudayaan dan masuk kebudayaan mayoritas.
5 (lima) golongan masalah akulturasi, yaitu:
Masalah metode untuk observasi, mencata dan melukiskan suatu proses akulturasi yang terjadi.
Masalah unsur kebudayaan asing yang mudah diterima dan yang sukar diterima.
Masalah unsur apa yang mudah diganti dan tidak mudah diganti atau diubah.
Masalah individu yang cepat dan sukar menerima.
Maslah ketegangan dari krisis sosial akibat akulturasi
Dalam peneltian jalannya suatu proses akulturasi, seorang [peneliti sebaiknya memperhatikan beberapa soal khusus, yaitu:
Keadaan masyarakat penerima sebelum proses akulturasi berjalan.
Individu-individu dari kebudayaan asing yang membawa unsur-unsur kebudayaan asing.
Saluran-saluran yang dimulai oleh unsur-unsur kebudayaan asing untuk masuk kedalam kebudayaan penerima.
Bagian-bagian dari masyarakat penerima yang terkena pengaruh unsur-unsur kebudayaan asing tadi.
Reaksi individu yang terkena unsur-unsur kebudayaan asing.
Pembaharuan atau Inovasi
Inovasi adalah suatu proses pembaruan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi dan modal, pengaturan tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru yang semua akan menyebabkan adanya sistem produksi dan dibuatnya produk-produk baru. Suatu proses inovasi tentu berkaitan penemuan baru dalam teknologi, yang biasanya merupakan suatu proses sosial yang melalui tahap discovery dan invension.
Faktor-faktor yang menjadi pendorong bagi seorang individu untuk memulai serta mengembangkan penemuan baru adalah sebagai berikut:
Kesadaran akan kekurangan dalam kebudayaan.
Mutu dari keahlian dalam suatu kebudayaan.
Sistem perangsang bagi kegiatan mencipta.
Penemuan baru seringkali terjadi saat ada suatu krisis masyrakat, dan suatu krisis terjadi karena banyak orang merasa tidak puas karena mereka melihat kekurangan-kekurangan yang ada disekelilingnya.
BAB III PENTUP
3.1 Kesimpulan
Budaya adalah "Keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat, yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan (believe), simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi. Dalam hal ini kearifan budaya lokal yang menunjukkan identitas dan karakter budaya lokal mestinya terlihat secara jelas dalam konsep ketahanan budaya lokal yang mestinya nilai kaearifan budaya lokal tetap terjaga dan menjadi nilai yang tetap ada untuk memperkokoh ketahanan budaya lokal. Dinamika Kelompok merupakan suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami.
3.2 Saran
Demikian hasil makalah kami, semoga bermanfaat bagi kita semua dan dapat menerapkannya dalam budaya dan lingkungan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Ardiwinata, Jajat. 2007. Sosiologi Antropologi Pendidikan.Bandung: UPI PRESS
Effendi,Ridwan. 2006. Pendiidkan Lingkungan Sosial Budaya dan Teknologi. Bandung: UPI PRESS.
Fathoni, Abdurrahmat. 2006. Antropologi Sosial Budaya. Jakarta: PT Rineka Cipta
Hermana, Ruswendi. 2006. Perspektif Sosial Budaya. Bandung: UPI PRESS
Koentjaraningrat. 2003. Pengantar Antropologi I. Jakarta: PT Rineka Cipta
Soekanto,Soerjono.1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
No comments:
Post a Comment